Sekat

Rintik, biar kumenepi

Duduklah berteman sepi

Menikmati bayangan

Tak tergenggam lagi

Pernahkah berlari

Lalu berjalan

Pernahkan berjalan

Dan berlari, berlari

Ku untai bisik

Agar awan tak berbalik

Agar semesta tak pergi

Mengelilingimu

Pernahkah berlari

Lalu berjalan

Pernahkah berjalan

Dan berlari, berlari

Matilah, mati lentera berpendar

Hangat mentari bersinar

Menikmati bayangan

Tak tergenggam lagi

derai

Kau adalah sepi

Membayang anggun sepencapai

Kau adalah daratan, karena laut adalah dalam dan yang tinggi adalah gunung.

Diantaranya rendah tak besolek

Diam saja, menawan.

minta ditawan.

Matamu adalah dusta

dengan kisah ciamik penuh cahaya

sedang aku, tidak ada.

demi apapun,

demikianlah,

ilusi yang selamanya tak pernah kumengerti

kosong

Di matamu pernah berkedip rindu paling riuh

Bersanggakan pundak tak jua meluruh.

Oh, sudut kakimu membiru,

Lihatlah! jejak jejak kepulangan.

Biar, biar tuntas.

Berberaian diatas pijakan.

Aku,

Tersara bara

Menahan dan menunda gugur

Memunggungi hamparan segar.

Menunggu,

Dan setelah beribu tunggu,

Jejak-jejak bara tak sudi berkunjung,

Apalagi sampai.

Cekatan

Sudah pagi.

Kau tak kunjung memilih,

Sedang matahari,

Berjalan tanpa henti.

Mau sampai kapan,

Memilih tanpa mempertahankan?

Kau rupanya gerang hati,

Angkat kaki,

Dan pergi untuk kembali.

—Tidak ada yang meminta

Tukang Kebun

Terbaca atau tidaknya kalimatku, aku akan merangkap jadi tukang kebun. Ya, suka sekali aku menanam bunga di langitmu hari ini. Tiap hari, mungkin.

Kuharapkan akan tumbuh di pagimu yang tak kau pedulikan sama sekali. Aku perintahkan ia mekar bersama langit sore yang kau nikmati. Entah dengan siapa, kenapa harus peduli?

Jika sudah begitu, sudah pasti ia akan menemanimu melewati malam panjang. Asri, seasri wajahmu yang berseri-seri. Melihatnya.

Dunia yang seluas itu kini hanya sebesar bola matamu. Hahaha, lucu bukan? Percuma saja kau menasehatiku. Mimpiku terhadapmu memang tidak mempunyai malu.

Perasamu, aku menulis untukmu.
Niatku, tidak.

Menurutmu, aku menulis untukmu.
Sebenarnya, tidak.


Aku mengajakmu bicara.

Bagiku, kau adalah seorang bidan.

Membantu melahirkan pemikiran, tawa,  kesadaran, dan mimpi.

Aku timang semuanya. Kujadikan satu, dan kurawat hati-hati. Akan ditimbang dan diberi imunisasi saat aku menjumpaimu di Pos Posyandu. Akulah yang paling sehat.

Kemudian, aku pulang. Melihatmu lagi dalam bentuk 2 dimensi. Disanalah kita berbincang—aku saja yang berceloteh.

Karena kau tidak pernah suka membaca.

Memenuhi Kertas Putih dengan Tinta Putih

“Sedang apa? Masuklah. dingin,”

“Menunggu, Tuan”

“Siapa?”

“Seseorang,”

“Adakah yang lebih hebat dariku, padahal hanya aku yang bersamamu sejak kecil.”

“Ada,”

“Siapa?”

“Seseorang,”

“Kenapa bisa begitu? Aku bisa memenuhi semua keinginanmu.”

“Kalau begitu, izinkan saya menemuinya.”

“Tidak, diam saja kau di rumah. Aku tak memberi izin.” Lelaki berpakaian kuning keemasan itu mengambil nafas. “Hana, denganku kau akan mendapat banyak. Hati, tahta, kekayaan, dan kekuasaan atas negeri ini. Apa lagi?”

“Aku memang bisa mendapat semua itu saat bersamamu. Tapi, Tuan, untuk apa?”

Ia diam, kusut sudah raut wajahnya. Memangnya untuk apa ia sampai titik ini jika bukan untuk gadis itu?

Saat tak disegani, susah sekali untuk bersamanya, sangat banyak rintangan. Berjuanglah aku, saling sikut-menyikut dengan saudaraku. Naif sekali, aku berpikir akan mudah bersamamu saat berada disini.

“Berikan semuanya, untukku. Termasuk ketulusan.”

Sang gadis menghadap tuannya, “Seiring waktu aku tentu bisa memberi apa yang anda inginkan. Tapi, baik Tuan maupun aku, sangat tahu betul, bahwa ketulusan tidak bisa diatur.”


Saya nggak tahu, harus ngapain, kadang waktu juga terasa sangat lamban. sehat selalu!